Dasar Pemikiran

Monolog ada sebelum dialog, namun saat dialog tak lagi dua arah kita pun kembali bermonolog. Dan ketika semua pihak saling bermonolog, kesunyian dan kehancuranlah yang menunggu di balik pintu.”

(I. Yudhi Soenarto)

Di era informasi dan keterbukaan yang penuh dengan jargon-jargon demokrasi dan kesetaraan sekarang ini bukankah ironis jika ternyata lebih banyak orang bermonolog daripada berdialog? Diam-diam monolog telah menjadi bahasa yang umum bagi para politisi, pengusaha, pemuka agama, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, aktifis LSM, seniman, bahkan individu-individu dalam sebuah rumah tangga. Boleh jadi semua mengaku berdialog, namun benarkah demikian?

Dialog tidak hanya berarti menyampaikan pikiran dan perasaan dengan kata-kata, tapi juga mendengarkan kata-kata pihak lain, memahaminya dan sedapat mungkin menerimanya dalam kerangka pikiran yang logis.  Ketika dialog hanya dimaknai sebagai saling mengucapkan kata-kata, komunikasi pun menjadi buntu.

Inilah dasar pemikiran utama mengapa dalam produksi kali ini Teater Sastra UI memilih format monolog. Berbeda dengan pentas monolog pada umumnya, yang kami tampilkan bukan hanya monolog satu tokoh, tapi multi-monolog beberapa tokoh yang semuanya terlibat dalam satu kasus yang sama: perselingkuhan. Perselingkuhan adalah paradoks. Ia sederhana sekaligus kompleks dan telah dibicarakan jauh sebelum manusia mementaskan drama. Namun kami berusaha menyajikan sisi lain yang aktual.

Zaman informatika global membawa banyak sekali perubahan pada hubungan antar manusia. Filsuf-filsuf seperti Michel Foucault dan Jean Baudrilaard bicara tentang bagaimana permainan kuasa dan seksualitas dimaknai di zaman ini: dengan sebuah permainan dan eksplorasi gila-gilaan, di mana tubuh dianggap sebagai “mesin biologis” dan manusia bisa dikendalikan oleh sebuah sistem yang bersifat mekanis.

Ketika kerangka berpikir seperti ini diterapkan dalam konteks yang lebih besar, yang melihat bahwa semua masalah sosial adalah masalah kesetubuhan, dan kerusakan sosial adalah kerusakan mekanistis yang bisa diperbaiki secara mekanistis pula, hubungan sosial yang romantis dan empatis menjadi tidak relevan. Seksualitas tidak lagi dianggap kodrat, tapi konstruksi.

Dalam kerangka seperti ini, seksualitas dan cinta pun menjadi permainan. Pernikahan dan institusi keluarga kehilangan kesakralannya dan menjadi tak lebih dari tradisi konsumeris. Karenanya, perselingkuhan menjadi hal yang biasa dan kesetiaan menjadi sangat langka. Konteks inilah yang ingin ditampilkan oleh pementasan “Multi-monolog Selingkuh.”